article-image

Sumber : https://tania-cms-image.s3.ap-southeast-1.amazonaws.com/Banner_Tanaman_Hias_cc85d55877.png

Menurut Dirjen Hortikultura (2005), permintaan dunia terhadap tanaman hias cenderung meningkat dari tahun ke tahun. Nilai perdagangan internasional saat ini mencapai lebih dari sebesar US$ 80 milyar. Namun pasar tanaman hias dunia memiliki nilai dagang yang masih relatif rendah yaitu hanya sebesar US$ 10 juta, atau dengan kata lain hanya sebesar 0,01% dari total arus nilai perdagangan dunia. Indonesia sebaga negara yang memiliki kenakeragaman hayati berlimpah, termasuk di dalamnya terdapat 27500 jenis tanaman berbunga atau menyumbang sebesar 10% jenis tanaman berbunga di dunia memiliki potensi besar dalam mengembangkan budidaya tanaman hias. Selain itu, perkembangan teknologi yang pesat juga mendukung kemudahan dan aksesibilitas produksi serta distribusi tanaman hias yang dibudidayakan.

Budidaya tanaman hias atau biasa dikenal dengan istilah florikultur merupakan satu dari tiga jenis budidaya tanaman hortikultura, selain dari tanaman buah-buahan dan tanaman sayuran. Tanaman hias memang belum memiliki tingkat kebutuhan ataupun tingkat permintaan yang lebih tinggi dibandingkan tanaman pangan. Namun seiring meningkatnya peradaban, maka perkembangan kesejahteraan masyarakat seperti keindahan, rekreasi, ketenangan, rasa hormat, dan atau kesejukan juga meningkat. Berdasarkan hal ini, tanaman hias yang memiliki nilai tersendiri terkait konteks keindahan dan kegunaan berpotensi untuk dijadikan suatu komoditas industri dalam dunia pertanian. Tanaman hias banyak dimintai oleh masyarakat terutama untuk keperluan dekorasi, garden landscaping, perhotelan, upacara seremonial, pesta, hari besar, dan lain-lain. Adapun bagian atau organ dari tanaman hias yang umumnya dimanfaatkan dan memiliki nilai jual antara lain seperti kanopi, tegakan, ataupun bunga.

Selain memiliki peluang produksi dalam skala industri nasional, budidaya tanaman hias juga memiliki prospek yang cerah dalam industri multinasional. Menurut Dirjen Hortikultura RI dalam BPS (2012) menyatakan bahwa volume dan nilai ekspor komoditas tanaman hias meningkat dari tahun 2007 hingga 2011 dengan nilai eskpor mencapai US$ 13.160.381. Oleh karena itu, banyak pengusaha dan masyarakat yang mulai melihat potensi komoditas tanaman hias sebagai bidang usaha pertanian yang menjanjikan. Namun bagaimanapun, layaknya tanaman pada umumnya, komoditas tanaman hias memiliki kegiatan produksi yang memerlukan ketekunan dan keuletan. Industri budidaya tanaman hias dimulai dari sistem hulu melalui pemenuhan persiapan benih atau bibit unggul, pemenuhan pupuk sebagai sumber nutrisi, hingga peralatan pertanian. Kemudian sistem proses atau budidaya yang mencakup kegiatan pembibitan, penanaman, pemeliharaan, hingga panen. Lalu diakhiri dengan sistem hilir berupa penanganan pascapanen hingga produk komoditas tanaman hias sampai ke tangan konsumen.

Sumber: Sastrahidayat, Ika Rochdjatun. 2015. Penyakit pada Tanaman Hias. Malang: UB Press.