article-image

Sumber Gambar: https://unsplash.com/photos/HeqXGxnsnX4

Baca Juga

Limbah pertanian merupakan limbah padat yang jumlahnya meningkat seiring dengan laju pertumbuhan penduduk, perkembangan industri, urbanisasi dan modernisasi. Penanganan dan pemanfaatan limbah pertanian secara serius diperlukan agar tidak memberikan dampak buruk terhadap lingkungan. Salah satu solusi yang dilakukan petani untuk mengatasi masalah ini adalah dengan membuat pupuk organik cair (POC). Melalui pembuatan POC, limbah pertanian jadi kembali memiliki nilai jual dan nilai guna yang dapat dimanfaatkan. Bagaimana bisa demikian? Apa yang sebenarnya terjadi dalam proses pembuatan POC? Mari kita simak pembahasannya!

Pupuk organik cair adalah larutan dari hasil pembusukkan bahan-bahan organik. Pada dasarnya limbah cair dari bahan organik bisa menjadi pupuk karena mengandung unsur hara seperti NPK. Namun, apabila secara khusus membuat pupuk organik cair, cara yang biasa digunakan adalah metode anaerob. Metode anaerob artinya pembuatan pupuk dilakukan tanpa bantuan oksigen. Proses fermentasi terjadi selama pembuatan pupuk dengan metode anaerob ini.

Secara umum, fermentasi merupakan proses metabolisme, dimana molekul organik dikonversi menjadi asam, gas, atau alkohol tanpa ada bantuan dari oksigen. Berikut 4 tahap yang terjadi dalam proses fermentasi:

  1. Hidrolisis Pada tahap ini, bakteri memecah senyawa kompleks menjadi lebih sederhana. Contohnya karbohidrat menjadi monosakarida, protein menjadi asam amino, dan lemak menjadi asam lemak.
  2. Asidogenesis Pada tahap ini, bakteri asidogenesis mengkonversi hasil tahap 1 menjadi asam organik seperti, asetat, propionat, butirat, etanol, metanol, dan lainnya. Hidrogen, karbon dioksida, dan asam asetat yang dihasilkan akan langsung masuk ke tahap-4, sedangkan hasil produk lainnya masuk ke tahap 3.
  3. Asetogenesis Pada tahap 3, bakteri asetogenesis mengkonversi sisa produk tahap 2, seperti propionat, butirat, dan etanol menjadi hidrogen, karbondioksida, dan asam asetat.
  4. Methanogenesis Selama tahap ini, mikroorganisme mengubah hidrogen dan asam asetat menjadi gas metana dan karbondioksida. Penstabilan sampah dicapai ketika gas metan dan karbondioksida dihasilkan.

Selanjutnya terjadi proses degradasi, dimana nutrisi yang dapat diserap tanaman dihasilkan. Proses degradasi tersebut diantaranya mencakup: 1. Penguraian Nitrogen (N) Pada kondisi anaerob, nitrogen dalam bentuk amonia (NH4+) diperoleh dari N-organik yang melalui proses proteolisis dan amonifikasi.

2. Penguraian Fosfor (P) Penguraian fosfor-organik dibantu oleh mikroorganisme menghasilkan H2PO4- atau HPO42- yang dapat diserap oleh tanaman 3. Penguraian Kalium (K) Ketersediaan kalium bagi tanaman dibagi menjadi 3, yaitu K tidak tersedia (dalam bentuk batuan mineral), K lambat tersedia (K yang tidak dapat dipertukarkan), dan K tersedia (K yang dapat dipertukarkan dan K dalam larutan tanah). K organik termasuk ke dalam K yang dapat dipertukarkan sehingga tersedia dapat diserap oleh tanaman.

Secara sederhana, itulah proses yang terjadi selama 7-10 hari waktu yang dibutuhkan untuk membuat pupuk organik cair dengan metode anaerob hingga akhirnya sampah organik dapat kita manfaatkan kembali. Jika ingin mengetahui lebih lanjut mengenai hal ini, Sobat Tania dapat menggunakan fitur Tanya Ahli di Aplikasi Dokter Tania. Dengan fitur tersebut pertanyaan Sobat Tania seputar pertanian dan pembuatan POC akan terjawab!

Ingin tingkatkan panen? Download aplikasi Dokter Tania sekarang
Lihat Referensi
  • Aditya, Candra dan Azizul Pradna Q. 2017. Pembuatan Pupuk Organik Cair (POC) dari Bonggol Pisang Melalui Proses Fermentasi. ITS: Dep. Teknik Kimia Industri, Prodi Studi DIII Teknik Kimia
  • Editor, BD. 2019. Fermentation. Diakses pada tanggal 1 Maret 2021 pukul 03.00 WIB dari 1
  • [Pappa, Suryadi. 2021. Panduan Membuat Kompos dengan Metode Aerob dan Anaerob](https://paktanidigital.com/artikel/panduan-membuat-kompos-dengan-metode-aerob-dan-anaerob/#.YDvt4Ggzbb0 Susmiati, Yuana. 2018. “Prospek Produksi Bioetanol dari Limbah Pertanian dan Sampah Organik”. Jurnal Teknologi dan Manajemen Agroindustri. Vol 7(2): 67-80). Diakses pada tanggal 1 Maret 2021 pukul 03.30 WIB