article-image

Sumber : https://tania-cms-image.s3.ap-southeast-1.amazonaws.com/News_343f1b4d4a.png

Halo Sobat Tania, pada kesempatan kali ini Neurafarm akan membagikan salah satu pengalaman kami yang cukup berkesan, yaitu kerjasama riset bersama petani di kawasan Lembang, Jawa Barat tepatnya di daerah Parongpong. Kami sangat senang dapat berkontribusi dalam meningkatkan hasil produksi lahan petani sambil menguji coba metode budidaya yang terus kami kembangkan untuk disebarluaskan melalui aplikasi Dr.Tania. Riset ini sudah terlaksana sejak bulan Februari hingga Agustus 2020. Bersama dengan Pak Usep, petani yang lahannya kami gunakan untuk bereksplorasi, kami menanam cabai merah besar varietas TW sebagai objek riset.

Riset dilakukan dengan membandingkan antara metode budidaya khas petani dengan metode budidaya presisi yang dikembangkan oleh Neurafarm. Beberapa parameter yang diamati antara lain, fase vegetatif (tinggi tanaman dan jumlah daun), fase generatif (jumlah bunga dan bobot buah), tingkat keparahan serangan hama penyakit, dan biaya yang dihabiskan. Hasil menunjukkan bahwa pada fase vegetatif, rata-rata tinggi tanaman yang ditanam dengan metode petani 10 cm lebih tinggi dari metode Neurafarm. Rata-rata jumlah daun tanaman dengan metode petani 10 helai lebih banyak dari metode Neurafarm. Sementara itu, pada fase generatif, rata-rata jumlah bunga dengan metode petani 5 kuntum lebih banyak dari metode Neurafarm dan hasil panen buah cabai dengan metode petani 8 kg lebih banyak dari metode Neurafarm. Akan tetapi, tingkat keparahan serangan hama penyakit di tanaman dengan metode Neurafarm 8% lebih rendah dibandingkan dengan metode petani. Selain itu, metode Neurafarm 70% lebih hemat dibandingkan dengan metode petani.

Riset dilakukan dengan membandingkan antara metode budidaya khas petani dengan metode budidaya presisi yang dikembangkan oleh Neurafarm. Hasil menunjukkan bahwa metode Neurafarm mampu menghemat biaya pengeluaran hingga 70% dengan tingkat keparahan serangan hama dan penyakit lebih rendah. Selain itu, parameter yang diamati antara lain fase vegetatif (tinggi tanaman dan jumlah daun) serta fase generatif (jumlah bunga dan bobot buah). Ditemukan bahwa pada fase vegetatif, rata-rata tinggi tanaman yang ditanam dengan metode petani 10 cm lebih tinggi dan rata-rata jumlah daun 10 helai lebih banyak dari metode Neurafarm. Sementara itu, pada fase generatif, rata-rata jumlah bunga dengan metode petani 5 kuntum lebih banyak dan hasil panen buah cabai 8 kg lebih berat dari metode Neurafarm.

Di balik keberhasilan riset pertanian presisi yang telah dilakukan, terdapat beberapa tantangan yang tidak terduga. Salah satunya adalah terjadinya pandemi Covid-19 yang mulai ramai di akhir bulan Maret. Akibanya, beberapa kegiatan rutin seperti pemantauan lahan oleh tim Neurafarm harus dilakukan secara daring dengan bantuan Pak Usep di lahan. Untungnya, kegiatan tersebut dapat berjalan lancar karena didukung oleh kesiapan petani dari sisi teknologi. Tantangan lainnya adalah harga jual buah cabai pada bulan Juni-Agustus yang anjlok. Harga jual cabai TW biasanya sekitar Rp 5.000 per kilo jatuh menjadi Rp 2.000 per kilo. Hal tersebut sempat membuat semangat petani turun karena tidak sebanding dengan biaya yang telah dihabiskan.

Dapat disimpulkan bahwa metode riset Neurafarm mampu menghemat pengeluaran biaya hingga 70% dan lebih tahan terhadap serangan hama penyakit. Harapannya pengalaman dan hasil riset ini dapat berdampak lebih luas lagi. Neurafarm sebagai startup yang bergerak di bidang pertanian akan terus berinovasi dan mengimplementasikan temuan kami di lapangan sehingga hasilnya teruji dan dapat dinikmati oleh petani se-Indonesia.