article-image

Sumber Gambar: https://www.pexels.com/photo/drone-shot-of-green-palm-oil-plantation-2950868/

Kelapa sawit dianggap sebagai tanaman yang rakus air sehingga pengembangan kelapa sawit dapat menyebabkan kerusakan tata air di suatu wilayah. Terdapat anggapan bahwa perusahaan berbasis kelapa sawit banyak memiliki andil dalam pemborosan air untuk menghidupi perkebunannya. Makin banyaknya perkebunan kelapa sawit dipandang sebagai ancaman bagi ketersediaan air di suatu wilayah. Apakah hal tersebut benar bahwa kelapa sawit rakus air dan menyebabkan kekeringan? Mari kita simak bersama pembahasannya. Selamat membaca Sobat Tania!

Baca juga Tips Penyiraman Air Yang Tepat Untuk Pertumbuhan TanamanT untuk mengetahui cara penyiraman air yang tepat sehingga pertumbuhan tanaman akan optimal

Apakah Benar Kelapa Sawit Rakus Air? Mengapa kelapa sawit dianggap membutuhkan air yang banyak dalam proses budidayanya dan menyebabkan kekeringan di suatu wilayah? Hal ini sebenarnya bukan tanpa dasar. Sebagian besar masyarakat di wilayah sekitar perkebunan sawit merasa bahwa sumur-sumur menjadi lebih mudah kering. Bagi masyarakat, sebelum perkebunan kelapa sawit berkembang di suatu daerah, memperoleh air di musim kemarau tidaklah sulit.

Apakah benar kelapa sawit adalah tanaman yang rakus air sehingga dapat menyebabkan menurunnya suplai air? Secara logika, hal ini dapat dilihat dari seberapa banyak air dibutuhkan oleh suatu tanaman untuk tumbuh dan berproduksi secara normal. Kebutuhan air ini disebut kebutuhan air konsumtif tanaman. Kebutuhan air konsumtif tanaman biasanya dilihat dari nilai evapotranspirasi, yaitu nilai yang mencerminkan jumlah air yang diserap tanaman untuk diuapkan melalui daun.

Apakah tanaman kelapa sawit merupakan golongan tanaman dengan nilai evapotranspirasi tinggi? Berbagai penelitian menunjukkan bahwa nilai evapotranspirasi tanaman kelapa sawit berkisar antara 1.100 – 1.700 mm/tahun. Penelitian selama 3 tahun di Pusat Penelitian Kelapa Sawit Subunit Kalianta Kabun, Riau menemukan bahwa jumlah rata-rata evapotranspirasi di kebanyakan perkebunan kelapa sawit adalah 1.104,5 mm/tahun. Nilai evapotranspirasi tersebut sebanding dengan nilai evapotranspirasi pada berbagai tanaman perkebunan yang dikembangkan pada daerah beriklim relatif kering seperti: 1. Tebu (jumlah evapotranspirasi 1.000–1.500 mm/ tahun) 2. Pisang (jumlah evapotranspirasi 700–1.700 mm/tahun) dan lebih kecil dari nilai evapotranspirasi: 1. Kelapa (1980 mm/tahun) 2. Tanaman pangan seperti padi, jagung, dan kedelai (dengan total evapotranspirasi antara 1.200 – 2.850 mm/ tahun untuk 3 musim tanam; setara 1 tahun) 3. Tanaman kehutanan seperti lamtoro, akasia, dan sengon (berturut-turut sekitar 3.000 mm/tahun, 2.400 mm/tahun, dan 2.300 mm/tahun) Data di atas menunjukkan bahwa tanaman kelapa sawit “tidak rakus air” dibandingkan dengan tanaman lain. Selain itu, tanaman kelapa sawit termasuk tanaman yang sangat efisien dalam pemanfaatan air.

Lalu, mengapa kelapa sawit yang sebenarnya “hemat air” dituding telah menyebabkan krisis air bagi lingkungan sekitarnya? Kelapa Sawit: Tanaman Yang “Hemat Air”, Tapi Memiliki Perakaran Dangkal Kelapa sawit termasuk tanaman yang mempunyai perakaran yang tergolong dangkal (akar serabut) tidak mampu menyimpan air sebaik pohon lain, sehingga mudah mengalami kekeringan. Hal ini menyebabkan tanaman kelapa sawit membutuhkan curah hujan yang merata sepanjang tahun agar dapat berproduksi secara maksimum.

Di lain sisi, jika elevasi permukaan lahan perkebunan kelapa sawit relatif datar dengan muka air tanah yang dangkal, maka lebih genangan dan banjir akan mudah terjadi. Penyebab hal ini adalah ketidakmampuan akar dalam menahan air hujan, sehingga air langsung lolos ke lapisan tanah di bawah zona perakaran. Lolosnya air diperparah dengan adanya jalan panen perkebunan kelapa sawit yang umumnya keras dan padat. Jalan panen ini mempunyai kapasitas penyerapan air yang sangat rendah dan dapat bertindak sebagai jalur pengaliran air pada saat hujan, sehingga jumlah air yang terbuang mengalir sebagai aliran permukaan menjadi tinggi. Oleh sebab itu, cadangan air tanah di perkebunan kelapa sawit menjadi lebih rendah.

Tanaman kelapa sawit sebenarnya tanaman yang “hemat air” dibandingkan dengan beberapa tanaman pertanian dan perkebunan lainnya, jika apalagi dibandingkan dengan tanaman kehutanan. Oleh sebab itu, jika di wilayah perkebunan kelapa sawit terjadi penurunan ketersediaan air, maka dapat diperkirakan bahwa pengelolaan terkait tata air di perkebunan tersebut belum memadai. Kerakusan akan air adalah sifat yang sukar diperbaiki, sementara perbaikan pengelolaan tata air adalah sesuatu yang dapat diusahakan.

Untuk dapat mengetahui cara budidaya kelapa sawit yang tepat, Sobat Tania bisa menggunakan fitur Budidaya di Aplikasi Dokter Tania. Dengan fitur ini Sobat Tania dapat mengetahui cara budidaya tanaman yang benar sehingga menghasilkan panen yang melimpah dan memuaskan.

Referansi Dwi Putro Tejo Baskoro. (2017, 14 Agustus). Kelapa Sawit: Benarkah Rakus Air?. Diakses pada 13 Januari 2021 dari https://faperta.ipb.ac.id/buletin/2017/08/14/kelapa-sawit-benarkah-rakus-air/#:~:text=Kelapa%20sawit%20dianggap%20sebagai%20tanaman,tata%20air%20di%20suatu%20wilayah gapki.id. (2020, Mei). Fakta Sawit Bukan Tanaman Boros Air: ‘Water Footprint Kelapa Sawit.Diakses pada 13 Januari 2021 dari https://gapki.id/news/17100/fakta-sawit-bukan-tanaman-boros-air-water-footprint-kelapa-sawit

Ingin tingkatkan panen? Download aplikasi Dokter Tania sekarang